Bali mesti Bersandar pada Prinsip Konservasi Energi
Dr. Ir. I Gusti Bagus Wijaya Kusuma (33) baru saja dikukuhkan sebagai profesor ke-105 sekaligus termuda dalam sejarah pelantikan guru besar Universitas Udayana. Dalam skala nasional, Wijaya -- begitu lelaki kelahiran Singaraja, 7 Juni 1970 ini dipanggil -- sudah memecahkan rekor sebagai profesor termuda. Penampilannya segar, bak anak muda. Bicaranya tidak menggurui. Sangat terbuka pada hal-hal baru. Suami dari Ida Ayu Eka Wilawati ini justru lebih senang diajak berdiskusi dan berdebat tentang ilmu-ilmu di luar disiplin ilmunya. Profesor di bidang konservasi energi pada Fakultas Teknik Universitas Udayana, ayah dari I Gusti Ayu Putu Kendran dan I Gusti Ngurah Made Parama Widya ini ternyata sejak muda memang kontroversial. Banyak hal terutama yang menyangkut pembangunan di Bali jadi renungannya.
Sejak awal dia sudah punya argumentasi yang bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa pembangunan yang tidak terkendali akan membuat Bali kelelahan. Bali terpuruk, terutama dari aspek lingkungannya. Dia pun aktif mengembangkan jaringan GDLN (Global Development Learning Network) di Universitas Udayana. Semua itu tentu untuk Bali dan Universitas Udayana sendiri. Berikut wawancara Bali Post dengan profesor muda ini melihat Bali.
JUDUL orasi ilmiah dalam pengukuhan profesor Anda adalah "Penerapan Konservasi dan Konversi dalam Pembangunan". Kira-kira maknanya apa?Pengertian konservasi adalah suatu upaya untuk menjaga terhadap perubahan, menjaga agar tidak sampai rusak, punah, atau habis. Konservasi juga berarti proteksi dan manajemen yang penuh perhatian dari sumber daya yang ada dan juga terhadap lingkungannya. Konservasi energi adalah upaya yang harus terus menerus dilakukan untuk menjaga agar energi dan sumber energi yang ada tidak mengalami perubahan dan kepunahan, dengan jalan memproteksi pemakaiannya serta mengelola sumber energi yang tersedia tanpa harus merusak lingkungan hidup. Sedangkan, konversi adalah perubahan bentuk, perubahan fungsi ataupun tingkat. Konversi energi adalah perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Bagaimana sesungguhnya Anda melihat Bali?Propinsi Bali kini telah banyak mengalami perubahan, khususnya bila ditinjau dari segi kebudayaan, karakter dan kenyamanan hidup masyarakat. Sebagai propinsi dengan budi daya yang tinggi, Bali memerlukan perhatian dan penataan karena telah terjadi keberagaman kultural dalam masyarakatnya. Penataan ini harus dijabarkan dalam konteks budaya yang multikultural, sehingga bisa membuat seluruh kawasan Bali lebih hidup, memiliki daya tarik visual, sosial, sehingga secara tidak langsung akan dapat meningkatkan penerimaan dari sektor pariwisata yang tengah lesu. Bali dalam perkembangannya dipenuhi pendatang luar, baik yang menetap sebagai pemukim liar sehingga menciptakan kesemrawutan dalam tata ruang dan mengakibatkan kumuhnya tatanan kota, maupun karena meningkatnya laju urbanisasi dan pariwisata yang berdampak pada tingginya kebutuhan dan pemakaian energi. Sebagai pusat pariwisata di Indonesia dan barometer pariwisata dunia, permasalahan yang dihadapi Bali tentu saja beda dengan propinsi lain di Indonesia. Terutama dalam menetapkan lahan dan tata ruang yang tepat serta upaya penanganan limbah dan pencemaran, sebagai hasil proses industri.
Menurut Anda, perubahan apa yang mendasari pembangunan di Bali?Pembangunan di Bali merupakan bagian dari rencana strategis pembangunan nasional. Meskipun tergolong wilayah yang kecil, pembangunan di Bali dapat dikatakan sangat fantastis. Hanya dalam satu dasawarsa, yang dimulai sejak 1990, pembangunan di Bali telah mengubah tatanan wilayah secara menyeluruh. Bali memang telah berbenah secara fisik maupun materi sehingga mampu meraih sebutan sebagai the best destination island di pengujung abad XX. Walau begitu, beberapa masalah pembangunan datang silih berganti, semuanya adalah masalah pembangunan kawasan perhotelan di dekat pura yang disucikan umat Hindu serta pembangunan kawasan pariwisata di sekitar wilayah yang dikeramatkan oleh masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat umum di Bali mengaitkan tempat-tempat suci dengan istilah sakral, serta menggunakan istilah leteh untuk sesuatu hal yang berarti ketidaksucian. Namun bagaimana masyarakat umum di Bali mendifinisikan serta menjabarkan istilah-istilah tersebut ditinjau dari konteks zaman modern kini, belum ada yang mampu memberikan suatu kajian yang mendalam. Akibatnya, pembangunan dan pengembangan kawasan di Bali -- walau ditentang oleh masyarakat -- tetap saja berjalan, meskipun pada akhirnya dapat merusak tatanan dan sistem yang sudah ada.
Apa yang salah dalam persoalan tersebut?Pertama, substansi dasar pembangunan yang merupakan kesatuan dan harmonisasi antara aspek wilayah/lingkungan, manusia dan Tuhan -- filosofi Tri Hita Karana -- yang menjiwai tata ruang Bali sering dilencengkan untuk tujuan ekonomis tertentu, sehingga semrawutnya pembangunan di Bali, selain disebabkan tidak jelasnya tata ruang serta lemahnya sistem kontrol dari pemerintah dan masyarakat, juga karena kurangnya perhatian dari pelaku pembangunan. Kedua, pembangunan di Bali menghadapi tantangan yang sangat berat. Laju pembangunan tanpa didukung konsepsi dan pemahaman makna tentang harmonisasi antara lingkungan, manusia dan Tuhan, akan berakibat pada makin tidak teraturnya pembangunan itu sendiri. Ruang atau penataran adalah suatu wadah yang sangat penting karena di sinilah harmonisasi antara manusia, alam, lingkungan dan Tuhan terjalin.
Ketiga, landasan filosofis dalam pembangunan Bali yang berlandaskan budaya dan dijiwai oleh agama Hindu telah banyak dijabarkan, namun implementasinya dalam dinamika pembangunan Bali dan upaya untuk mewujudkan pembangunan Bali yang berkelanjutan, berwawasan budaya dan lingkungan, belum optimal. Keempat, landasan filosofis tersebut perlu ditegaskan kembali seiring dengan situasi dan kondisi di Bali yang sudah jauh berbeda, sehingga bisa merangkul beberapa komponen dan aspek yang nyata dan terlibat langsung dalam proses pembangunan, yang meliputi ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan kenyamanan.
Kelima, pemahaman makna landasan filosofis pembangunan harus dapat mengikuti perkembangan zaman dan siap berubah ke arah yang wajar, karena bergesernya nilai-nilai dan pola tatanan yang ada dalam pembangunan di Bali lebih banyak disebabkan kurangnya pemahaman makna para pelaku pembangunan dan masyarakat, sehingga visi dan misi dari filosofi Tri Hita Karana perlu lebih dipertajam lagi dengan jalan menjadikannya sebagai suatu modifikasi standar dari pembangunan dan pengembangan Bali secara berkesinambungan.
* * *Pembangunan ideal itu menurut Anda seperti apa?Pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang berupaya untuk mengembangkan semua potensi yang ada dengan seoptimal mungkin, semua itu bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa dan negara dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ideal perlu memperhitungkan beberapa faktor penting yang meliputi keberadaan, stabilitas, daya tahan, perencanaan yang efisien dan kondisi lingkungan, serta memperhatikan budaya dan adat istiadat yang ada. Khusus di Bali, pembangunan yang ada maupun yang akan dilakukan hendaknya bersandar kepada nilai-nilai luhur yang telah teruji kebenarannya. Nilai luhur yang merupakan keseimbangan antara tiga elemen yakni fisik, jiwa dan tenaga seharusnya selalu menjadi pedoman dalam pembangunan di Bali agar mampu menjawab tantangan dan dinamika masyarakat yang berkembang, serta diharapkan dapat menjadi standar dalam pembangunan nasional. Hal ini saya sampaikan karena pembangunan di Bali dilaksanakan dengan memanfaatkan lahan yang sudah tidak produktif maupun lahan yang sebenarnya berpotensi sebagai daerah penyangga ataupun lahan hijau.
Dari mana harus memulai agar pembangunan ideal tersebut terwujud?Pembangunan fisik yang banyak kita jumpai saat ini adalah berupa sarana transportasi, gedung-gedung bertingkat -- perkantoran, hotel-hotel, apartemen dan pertokoan, perumahan, serta taman wisata. Semua ini dibangun baik dengan memanfaatkan lahan kosong, lahan produktif maupun lahan yang sebenarnya berpotensi sebagai daerah penyangga. Meskipun Bali telah sukses meraih penghargaan Adipura, namun kriteria untuk menjadikan seluruh kota sebagai daerah yang nyaman belum tercakup di dalamnya. Justru sebaliknya, temperatur rata-rata di beberapa kota makin meningkat dalam satu dasawarsa ini. Pencemaran juga menjadi persoalan yang berpengaruh terhadap kenyamanan penghuni, sehingga harus menjadi parameter penting dalam pembangunan, meskipun Bali telah sukses meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha.
Pembangunan dan penataan kota di Bali dapat saja bersandarkan kepada nilai-nilai luhur tradisional yang telah teruji kebenarannya, namun karena belum ada yang mampu memberikan kajian mendalam ataupun menjabarkannya menjadi formula yang bisa diterima oleh seluruh komponen masyarakat, maka hal tersebut menyebabkan kurang atraktifnya filosofi dasar tersebut dalam pembangunan modern kini, terlebih dengan terbatasnya lahan yang ada sehingga menyulitkan pembangunan di Bali dengan menggunakan dasar filosofi tersebut secara utuh. Dengan demikian, pembangunan di Bali harus dimulai dari penataan kawasan dan pengurangan terhadap pencemaran serta perusakan lingkungan hidup, dengan menggunakan pola berkeseimbangan laju pertumbuhan penduduk, pemakaian energi dan pemakaian sumber daya alam dan hayati.
Apakah konservasi yang dilakukan aparat terkait sudah sesuai dengan pemikiran dan konsep Anda?Masyarakat Bali secara tegas sudah mengetahui bagaimana pembangunan seharusnya dilaksanakan dengan menggunakan konsep hulu dan hilir -- atau filosofi segara-gunung, sehingga pembangunan dan penataan suatu wilayah seharusnya dilakukan dengan sangat jelas terhadap wilayah perumahan, wilayah pariwisata, wilayah bisnis dan wilayah penyangga serta wilayah yang disucikan. Sejak dikembangkannya Bali menjadi daerah tujuan wisata, dalam kurun dua dasawarsa belakangan ini telah terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam pembangunan di Bali khususnya dalam tata ruang. Meskipun pembangunan gedung-gedung memakai pola arsitektur Bali, namun tinggi gedung, orientasi dan jarak antargedung belum dikaji secara tepat, khususnya terhadap upaya konservasi energi dan upaya pengaturan sirkulasi udara di dalam kota untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan udara segar di perkotaan.
Mengacu kepada filosofi segara-gunung tadi, maka sirkulasi fluida baik itu udara, air dan gas inilah yang diyakini bersirkulasi dari kota ke pegunungan yang suci menuju ke pantai, serta dari pantai akan kembali lagi ke gunung dan ke kota. Sirkulasi fluida berpengaruh terhadap pemakaian energi dan karakter masyarakat. Makin jelek kualitas fluida itu akan berakibat pada kemunduran tingkat kesehatan dan kenyamanan masyarakat, namun meningkatkan pemakaian energi. Penataan kawasan hijau sebenarnya adalah implementasi dari filosofi Tri Hita Karana dan segara-gunung, sehingga harus terus diupayakan secara berkesinambungan. Terkait dengan itu, saya melihat bahwa upaya konservasi yang dilakukan oleh aparat terkait sudah baik, hanya saja belum berkesinambungan dan terpadu. Peran serta masyarakat juga masih rendah serta upaya penegakan hukum juga belum berjalan secara efektif dan tegas.
Idealnya, apa yang harus diperbaiki untuk membuat pembangunan di Bali lebih tertata?Penataan pembangunan di Bali hendaknya bersandarkan kepada beberapa prinsip konservasi energi. Gedung baru ataupun renovasi bangunan tua perlu memperhitungkan kenyamanan termis dan konservasi energi karena mereka menggunakan 50% hingga 60% dari total energi negara di mana penggunaan energi tersebut sebagian terbesar adalah untuk sistem pengkondisian udara dan penerangan di dalam ruangan. Mempertimbangkan bahwa sumber energi di Bali adalah kecil, maka pola pembangunan harus berdasarkan pada prinsip tersebut. Dengan demikian, pembangunan gedung yang menggunakan energi dengan skala besar harus dibatasi. Penataan terhadap orientasi gedung, jarak antargedung dan tinggi gedung adalah dalam upaya konservasi energi secara berkesinambungan.
Untuk mengimbangi adanya perubahan iklim baik secara lokal maupun global, yang secara langsung akan berpengaruh terhadap pemakaian energi dan upaya konservasi yang harus dilakukan, maka gedung bertingkat tinggi sebaiknya tidak dialokasikan bersama-sama dengan gedung-gedung tradisional. Hal ini bertujuan untuk mengurangi efek eddy vortex pada bangunan rendah yang disebabkan adanya gedung-gedung tinggi. Gedung-gedung tinggi sebaiknya dibangun pada leeward side dari sebuah kota (untuk kota Denpasar, leeward side-nya adalah daerah Suwung dan Sanur serta Sempidi), serta daerah lanjutannya harus merupakan rural area, atau wilayah pertanian.
Selain itu, keberadaan gedung-gedung tinggi harus mampu meningkatkan shading coefficient (koefisien peneduh) bagi gedung-gedung tradisional di tengah kota. Gedung-gedung bertingkat tinggi sebaiknya dibangun di sebuah kawasan tersendiri (kota satelit) di mana pengawasan dan pengembangannya dilakukan oleh sebuah badan yang mandiri. Penerapan konservasi energi pada gedung dengan ketinggian di bawah 10 m dapat pula dilakukan dengan jalan mengatur tata letak dan jarak antarbangunan. Makin dekat jarak antargedung akan berakibat pada makin tingginya energi yang diperlukan untuk mencapai kenyamanan di dalam ruangan.
Sentra industri adalah satu hal yang juga perlu mendapat perhatian ditinjau dari potensi pengembangannya serta pada kemungkinan pencemaran yang akan terjadi. Limbah proses produksi baik dari rumah tangga maupun dari hasil proses industri perlu mendapat perhatian ditinjau dari potensi pengembangannya sebagai sumber energi biomas serta pada kemungkinan pencemaran yang akan terjadi.
Taman kota dan sabuk hijau merupakan satu faktor yang sangat penting dalam penataan sebuah kota. Selain sebagai paru-paru kota, taman kota juga mampu mengurangi efek pemanasan lokal dan meningkatkan kenyamanan penghuninya. Sabuk hijau mampu berfungsi sebagai wind barrier dan mereduksi kecepatan angin sebelum memasuki wilayah pemukiman. Wind barrier sebaiknya dibangun di sekeliling kota, untuk mengurangi kecepatan angin dan kelembaban relatif yang cukup tinggi serta akan membawa udara segar ke arah perkotaan, yang berakibat pada meningkatnya kenyamanan masyarakat di kota, yang secara tidak langsung akan mengurangi pemakaian energi di perkotaan.
* * *
Apa maksud "energi dalam pembangunan" yang Anda tuangkan dalam orasi ilmiah Anda?Energi adalah sesuatu yang absolut, tidak tercipta dan tidak termusnahkan. Energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya tanpa ada satu pun yang hilang. Dalam konteks ini, energi adalah daya yang dihasilkan dan dipergunakan untuk keperluan rumah tangga, transportasi, penerangan dan sistem pengkondisian udara. Sumber energi yang ada saat ini terbatas, namun pemakaiannya yang tak terbatas. Padahal, ada beberapa sumber energi yang potensial untuk dipergunakan dalam rangka mengantisipasi kelangkaan sumber energi fosil yang dipakai saat ini, yang disebut sebagai renewable energi.
Ada yang salah dalam pemakaian energi untuk pembangunan Bali selama ini sehingga Anda merasa terganggu dan membuat pemikiran sendiri terhadap hal tersebut?Upaya konservasi energi belum dilakukan secara optimal, baik karena kesadaran masyarakat yang masih kurang maupun karena kurangnya pemahaman dari para pemegang kebijakan. Upaya konservasi energi dan konversi energi sebenarnya telah dituangkan dalam rencana pembangunan lima tahun ke depan serta ditujukan untuk mendukung usaha pertanian dan kemaritiman, memperkuat kerja sama dan partisipasi kegiatan, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya untuk meningkatkan implementasi dari otonomi daerah. Dalam upaya memenuhi kebutuhan energi masyarakat Indonesia di tengah gencarnya seruan akan perbaikan lingkungan hidup, maka hanya ada dua pilihan yang saat ini bisa ditawarkan. Masing-masing pilihan itu adalah energi listrik dengan harga murah namun dengan konsekuensi udara di lingkungan kita tercemar, atau harga listrik yang relatif lebih mahal namun dengan udara di atmosfer kita tetap bersih. Dalam waktu dekat ini kelihatannya belum ada pilihan ketiga yang menawarkan energi listrik dengan harga murah, namun proses pembangkitannya ramah lingkungan.
Bali mengalami lonjakan kebutuhan energi -- dalam hal ini energi listrik -- yang cukup fantastis seiring dengan laju pertumbuhan fasilitas dunia pariwisata dan laju pertumbuhan penduduk. Peningkatan kebutuhan energi listrik di Bali adalah sekitar 8%-12% per tahunnya memerlukan perhatian yang lebih mendalam, karena kebutuhan energi di Bali masih dipenuhi dari Jawa dalam persentase yang besar. Bali sebagai aset negara dalam usaha lumbung devisa negara membutuhkan stabilitas dalam pemenuhan kebutuhan energi. Dengan menjamurnya fasilitas penunjang pariwisata, maka harus diikuti usaha dalam pemenuhannya. Tingkat kestabilan pemenuhan energi yang relatif tinggi akan menjamin kelangsungan bagi sektor pariwisata dan penunjangnya, termasuk bagi dunia usaha di Bali yang akan semakin berkembang, sehingga secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali jika energi listrik tersebut digunakan secara ekonomis.
Beberapa kawasan wisata di Bali sudah menerapkan sistem hotel yang terpadu. Namun, seharusnya kawasan wisata tersebut juga melakukan hal yang sama untuk sistem pengolahan limbah dan pemenuhan sumber energinya. Mereka harus memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan energi secara bersama-sama, termasuk cara penanggulangan terhadap pencemaran yang dihasilkan. Hal ini juga bertujuan agar kawasan wisata dan pengembangan kawasan wisata senantiasa menyesuaikan dengan RUTR, sehingga setiap insan yang berkeinginan untuk membangun dan mengembangkan kawasan wisata di Bali akan berpikir secara rasional dan menghargai RUTR yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan DPRD-nya.
Analog untuk kawasan wisata dilakukan juga untuk kawasan pemukiman, bisnis, atau industri.
Bila memang suatu kawasan tidak diperuntukkan sebagai lokasi pemukiman, bisnis, atau industri, maka seharusnya tidak akan pernah ada pemikiran untuk mendistribusikan energi ke wilayah tersebut. Hal ini juga sekaligus untuk menghormati RUTR, sehingga para pengembang tidak akan pernah berniat untuk membuka kawasan rural menjadi urban area. Konservasi dan konversi energi adalah upaya yang harus dilakukan bersama oleh pemerintah dan masyarakat guna mengantisipasi kelangkaan energi di Indonesia akibat makin meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya pembangunan di Indonesia yang secara langsung akan meningkatkan kebutuhan energi secara nasional. Harapan kami, upaya konservasi dan konversi energi pada akhirnya akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional -- karena dapat disimpannya energi yang terpakai -- serta pemerataan hasil pembangunan, tanpa merusak ekosistem yang sudah ada. Bagaimana pun, pembangunan nasional bertujuan mulia yakni untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Seharusnyalah pembangunan tersebut dilakukan dengan menyeimbangkan antara faktor manusia, alam semesta dan Tuhan.
* * *
Tentang keluarga Anda. Bagaimana Anda dibentuk di sana?Kami dibentuk dalam keluarga yang harmonis. Ayah saya adalah pegawai Kehutanan, dalam kesehariannya ia menjaga dan berupaya melestarikan lingkungan hidup secara berkesinambungan. Ia sering memperkenalkan kepada kami upaya pelestarian lingkungan hidup dan masalah serta kendala yang harus dihadapi untuk itu. Upaya konservasi sumber daya alam dan hayati telah ia perkenalkan kepada kami, sehingga sedikit tidaknya mempengaruhi pola pikir kami terhadap lingkungan hidup. Ibu saya pegawai Kejaksaan, ia juga mendidik kami tentang beberapa kebijakan yang harus dilakukan. Segala usaha, jerih payah, pengorbanan, bimbingan, inspirasi, motivasi, sugesti, ide-ide dan segalanya, telah menjadikan kami dapat maju dan berkembang seperti sekarang ini.
Sejak kecil Anda tertarik pada bidang apa?Sejak kecil saya tertarik dengan alam. Itu sebabnya orangtua membelikan saya berbagai buku pengetahuan tentang alam. Selain itu saya juga aktif di Pramuka yang sangat dekat dengan alam. Saya menyukai alam dan fenomena yang ada padanya, di mana keterkaitan antara manusia dan alam sangatlah tinggi, yang harus dijaga secara berkesinambungan.
Apa impian Anda waktu kecil?Dari kecil saya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan ataupun dokter. Namun, dalam perjalanan hidup, saya juga dibekali pengetahuan filsafat oleh keluarga ayah saya, sehingga membentuk kepribadian yang lebih luas. Saya lebih tertarik pada fenomena alam, mengupasnya secara filsafat dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Pengalaman apa yang Anda dapatkan setelah kuliah di ITS (Teknik Mesin)?Sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk mengambil kuliah di jurusan Teknik Mesin. Cita-cita saya adalah menjadi dokter ataupun scientist di bidang ilmu pengetahuan alam yakni fisika, kimia maupun biologi. Namun karena saya tidak diterima PMDK di jurusan Teknik Fisika ITB, maka saat UMPTN saya lebih memilih untuk menjadi dokter. Mungkin karena jalan hidup, saat pendaftaran UMPTN, tangan saya menulis jurusan Teknik Mesin ITS sebagai pilihan pertama, dan ternyata lulus. Saat kuliah di ITS, banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan, khususnya upaya pencarian jati diri. Di situlah saya menemukan konsepsi dasar, di mana hidup itu sebenarnya sangat sederhana, namun kita membuatnya menjadi sulit. Sebagai orang Singaraja, sebagai anak alam, maka jiwa saya telah terbentuk secara sistematis, sehingga manajemen hidup menjadi lebih mudah dan menarik.
Bagaimana dengan dukungan keluarga Anda?Keluarga saya sangat mendukung kinerja dan
kegiatan saya, sehingga saya sering meninggalkan mereka untuk penelitian, pekerjaan, maupun untuk publikasi, presentasi dan sebagainya. Prinsip kami adalah keseimbangan antara tugas baik kantor maupun sebagai pribadi dengan kewajiban sebagai kepala rumah tangga maupun sebagai anggota keluarga, dan masyarakat. Peran ibu, saudara dan istri serta anak telah membantu saya untuk pembentukan pribadi seperti sekarang. Mereka adalah buah hati, sumber inspirasi dan motivasi saya sehingga saya perlu menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengertian, perhatian dan kesabaran serta pengorbanan yang tulus yang telah diberikan selama ini.
Selasa, 06 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 komentar:
Memang benar yang termuda di Unud, tapi masih kalah hebat dgn rektor Undiknas. dan lagi profesor punya masalah dgn wajah yg sangat tidak menarik plus menyebalkan, even buat keluarga sendiri.
Postingan diatas terasa narsis dan menunjukan tidak pernah ada org yg memuji anda hingga harus repot2 menulis pujian selangit utk memuji diri sendiri. Kasihan!
gustra @ baru saya lihat anda ini ... tapi hanya nama.. tidak ada profilnya.. kok sewot kali anda ya ?? saya adiknya .. kenapa ?? ada masalah dengan kakak saya dengan anda ?? pengen saya ketemuan dengan anda.. dimana anda tinggal ?? alamat saya sudah sangat terlihat .. pengecut anda ya .. di klik namanya ga ada orangnya ... pencundang anda
gustra @ kapan bisa ketemu ??? yuk ?? saya cari anda .. saya senag bersahabat .. tapi kalo sudah menghasut kakak kandung saya .. saya yg di depan ..gaa usah anda cekak bicara ya . kakak dosen .. saya preman ... yuk ???
Posting Komentar